Toleransi atau Natalisasi ?

Januari 1, 2015

Kami sekeluarga pergi liburan di Taman Safari Indonesia, tanggal 27- 28 Desember 2014.

Nuansa Natal terlihat di mana-mana, di hotel dipasang pohon Natal super besar, di pangung-panggung pertunjukkan, di setiap wahana permainan, karyawan yang memakai atribut natal, dan di restauran juga di pasang pohon Natal besar, kemudian sengaja diperdengarkan musik dan lagu-lagu Natal seperti “Holly night, Merry chrismas, jingle bels,, dll. Yang diputar berulang-ulang.

Seolah-olah TSI dan seluruh karyawannya serta semua para pengunjungnya sedang merayakan Natal bersama. Anehnya, kami perhatikan, sebagian besar pengunjungnya adalah ibu-ibu dan anak-anak berjilbab.

Begitu pula ketika acara makan malam, yang disediakan untuk para pengunjung yang bermalam, di restauran di sediakan panggung acara semuanya bernuansa Natal, ada cemara Natal besar, spanduk dan interior Natal, para karyawan yang memakai atribut Natal, dan penyanyi yang menyanyikan lagu natal. Sekali lagi, kami perhatikan, sebagian besar tamu yang bermalam dan makan malam di restauran itu adalah ibu-ibu dan anak-anak berjilbab. Dan kemungkinan besar para karyawan yang melayani kami, yang hampir semua memakai topi santa juga muslim.

Demikian pula ketika sarapan, esok harinya, karyawan yang melayani kami, semua memakai topi santa.

Begitu pula yang terjadi di tempat-tempat wisata lainnya. Begitu pula ketika kami berbelanja di Mall, dll. Mengapa ini bisa terjadi di negara yang mayoritasnya muslim ?

Jika ini terjadi di Eropa, Amerika, atau Australia, yang mayoritasnya beragama Kristen dan merayakan Natal, tentu saja wajar di mana-mana ada nuansa Natal. Ketika terjadi di Indonesia, seolah-olah mayoritas rakyat Indonesia merayakan Natal, ini sungguh aneh. Apakah ini bukti bahwa segelintir konglomerat yang menguasai perekonomian rakyat, yang kebetulan beragama kristen, menggunakan kekuasaannya untuk menekan penguasa mendukung natalisasi di Indonesia ?

Tolong jaga perasaan kami, mayoritas muslim yang tidak merayakan Natal. Natal bukan perayaan agama kami, mengapa kami dikondisikan untuk ikut di dalamnya ?

Kami hanya ingin berlibur di TSI dan di tempat wisata lainnya, bukan untuk merayakan Natal. Kami hanya ingin belanja kebutuhan kami di Mall, bukan untuk merayakan Natal.

Sesungguhnya siapa yang toleransi dan intoleransi ?


Tanggapan terhadap Opini Romo Franz Magnis Suseno yang Mendukung Perkawinan Beda Agama

September 15, 2014

images

Opini Romo Franz terkait gugatan uji materi UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang diajukan oleh 4 alumni dan seorang mahasisa Fakultas Hukum UI, dimuat di Harian Republika, Rabu, 10 September 2014.

Di dalam artikel tersebut, dikutip bahwa beliau, (di satu sisi kepribadiannya), mengatakan, “Negara tidak boleh menghalang-halangi perkawinan antara dua insan yang berbeda agama.” Tapi di sisi lain kepribadiannya sebagai penganut dan pemuka Katolik, Romo Magnis mengatakan bahwa, “Di dalam agama Katolik, perkawinan hanya sah jika dilakukan dengan aturan Katolik.”

Sungguh kami tidak memahami bagaimana pada saat yang bersamaan, satu pribadi memiliki dua opini yang bertentangan dalam menyikapi satu masalah. Mengapa Negara tidak boleh menghalangi perkawinan beda agama ? Mengapa di dalam agama Katolik, atau agama Islam, atau agama Hindu, atau agama Buddha, atau agama apapun itu perkawinan beda agama dilarang atau tidak sah ?

Bukankah jika suatu agama menyatakan bahwa perkawinan hanya sah jika dilakukan dengan aturan agama tersebut, itu artinya yang menyatakan hal tersebut adalah Tuhan, atau pernyataan tersebut berasal dari perintah Tuhannya ?

Sebagai seorang individu atau pribadi yang beriman kepada Tuhannya, bukankah sudah seharusnya taat dan mendukung perintah Tuhannya ? Dalam agama apapun pasti ada yang namanya jalan kebaikan dan jalan keburukan, jalan kebaikan akan lurus menuju surga Tuhannya dan jalan keburukan akan tersesat dari jalan Tuhan. Manusia bisa berada dalam jalan kebaikan karena bimbingan Tuhan dan manusia berada dalam jalan keburukan karena mendengar bisikan setan, setan dinyatakan oleh Tuhan sebagai musuh manusia, jika ingin berada dalam jalan kebaikan yang lurus menuju kepada Tuhan maka manusia tidak boleh mendengar bisikan setan.

Sebagai seorang individu yang percaya kepada Tuhan, bukankah sudah seharusnya menyatakan sikap untuk mendukung Tuhannya ? Bukan malah mendukung setan yang adalah musuhnya ?

Negara Indonesia adalah representasi dari sekumpulan individu beragama yang berkuasa, maka sudah seharusnya kumpulan individu yang beragama dan berkuasa ini juga mendukung perintah agamanya (perintah Tuhannya) bukan malah mendukung warganegaranya agar tersesat.

Setiap individu, ketika berperan sebagai pemimpin untuk diri sendiri dan sekaligus menjadi pemimpin keluarga, atau pemimpin masyarakat, atau pemimpin daerah, atau pemimpin Negara maka dia tidak bisa melepaskan dirinya dari keterikatan kepada keimanan atau kepercayaan agamanya dan kelak juga tidak bisa melepaskan dirinya dari tanggungjawab dihadapan Tuhannya.

Romo Magnis, mengapa Romo mendukung seseorang yang ingin kawin dengan orang yang berbeda agama, di Indonesia ini, di Negara yang Romo ketahui mayoritasnya adalah beragama Islam, yang Romo ketahui bahwa dalam Islampun sama seperti dalam agama Romo, bahwa perkawinan hanya sah jika dilakukan dengan aturan Islam. Dua orang yang kawin beda agama dalam Islam sama dengan melakukan perzinaan. Jika Romo mendukung perkawinan beda agama di Indonesia ini, apakah memang menjadi tujuan Romo, agar generasi muda Islam melakukan perzinaan dan akhirnya murtad dari Islam ?

Jika Romo tinggal di Italia atau di Vatikan, apakah Romo akan menyuarakan hal yang sama, suara yang bertentangan dengan suara para pemimpin Katolik di sana ?


Yuuk kembali ke Allah !

Juli 8, 2014

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Saya seorang muslim.
Tuhanku adalah Allah SWT, yang menurunkan Taurat, Zabur, Injil, dan Qur’an.
Nabiku adalah Muhammad SAW, yang menyampaikan Qur’an dan As Sunnah.
Allah berFirman (QS. An-nisaa ayat 59) : “Yaa ayyuhalladziina aamanuu athii’uullaaha wa aathii’uurrasuul wa uulil amri minkum.
Fa in tanaaza fi syai’in faruddzuuhu ilallaahi warrasuuli in kuntum tu’minuuna billaahi walyaumil akhiri. Dzaalika khairuw wa ahsanu ta’wiilaan.

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Qur’an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Siapakah yang diseru untuk taat kepada Allah dan Rasul ? Yaitu semua orang beriman, termasuk orang beriman yang menjadi ulil amri. Ketaatan orang-orang beriman kepada ulil amri adalah dalam rangka ulil amri menjalankan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Nabi Muhammad berpesan :
“Kutinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu , Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya”. (HR. Malik)

Ulil Amri yang selama ini berkuasa di Indonesia, terbukti menolak menerapkan hukum Allah yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As sunnah.

Dan, setelah menyaksikan rangkaian debat capres, tidak ada satupun yang berjanji untuk menjalankan syariah (Qur’an dan sunah) dalam rangka menjalankan ketaatannya sebagai calon ulil amri yang harus tunduk taat kepada Allah (Qur’an) dan tunduk taat kepada Rasul (sunnah), maka saya memutuskan,  9 Juli 2014, tetap GolPut karena Allah.

 


Hijab Petition

April 23, 2014

Assalammu’alaikum wr wb. Kami mohon dukungan untuk “Hijab Petition” di sini http://www.avaaz.org/en/petition/Mr_President_Yudhoyono_Give_muslim_policewomens_rights_to_wear_hijab/?ekavHab
Syukran, semoga dicatat Malaikat Rokib sebagai amal baik dan mendapat pahala amar ma’ruf nahi munkar dari Allah SWT. Wassalam.


Dukung Polwan Berjilbab !

Februari 4, 2014

polwan berjilbabKami sangat mendukung opini tajuk Republika yang berjudul “Polwan
Berjilbab”, edisi Rabu, 5 Juni 2013.

Mengingat :
1. Dasar negara Indonesia adalah Pancasila, khususnya sila ke-1
KeTuhanan Yang Maha Esa, di mana setiap warga negara harus mewujudkan
sila kesatu ini dalam aktifitas sehari-hari sesuai dengan tuntunan
Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah SWT bagi yang muslim, yang salah satu
tuntunanNya adalah berjilbab menutup aurat.
2.  Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam
yang jumlahnya terbesar di dunia.
3. Di negara-negara lain, Polwan dan tentara perempuan sudah
diperbolehkan berjilbab, bahkan di negara di mana muslimah menjadi
minoritas seperti di Australia dan Amerika Serikat.

Oleh karena itu, sangat menyedihkan dan memalukan jika Indonesia tidak
segera memenuhi hak Polwan muslimah.

Terimakasih.


Surat Edaran Jaksa Agung yg Mendukung Korupsi

Februari 4, 2014

neraca keadilanBeberapa hari yang lalu, Metro TV mengangkat Editorial Media Indonesia dengan topik Surat Edaran Jaksa Agung bernomor B-113/F/Fd.1/05/2010 yang ditujukan kepada seluruh kejaksaan tinggi, yang isinya berseberangan dengan semangat pemberantasan korupsi.

Melalui surat itu, korps Adhyaksa dihimbau agar dalam kasus dugaan korupsi, jika terdakwa koruptor  dengan kesadarannya sendiri telah mengembalikan kerugian keuangan negara, yang nilai korupsinya kecil, perlu dipertimbangkan untuk tidak ditindaklanjuti proses hukumnya.

Bagaimana mungkin Kejaksaan sebagai salah satu tonggak penegak hukum, justru melakukan perbuatan yang membebaskan para koruptor. Surat Edaran tersebut akan semakin menyuburkan perilaku korup, karena pejabat negara yang bermental korup tentu akan berfikir, “Kalau begitu, bisa kita akali, jika mau korupsi, nilainya yang kecil-kecil saja, syukur-syukur tidak ketahuan, kalaupun ketahuan, toh tinggal kita kembalikan saja kepada negara, beres perkara, kita tidak perlu menjalani hukuman.”

Kasus korupsi yang dinilai kecil dalam isi surat edaran tersebutpun tidak jelas berapa batasannya ? Tapi,  sekecil apapun nilainya, tetap saja harus ada sanksi hukum.  Bukankah Nenek Minah yang tanpa ijin memetik  3 buah kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antanpun  harus diganjar 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan 3 bulan ? Padahal, nenek Minah seorang  yang miskin, dan tujuannya  memetik buah kakao itu untuk dijadikan bibit yang akan dikembangbiakkan di lahannya sendiri.

Pengembalian harta hasil korupsi karena kesadaran sendiri dari tersangka atau terdakwa koruptor, mestinya tidak menghapuskan hukuman, tetapi bisa meringankan atau mengurangi hukuman, karena kita menghargai keberanian, kejujuran dan itikad baiknya dalam mengembalikan harta milik negara.

Justru, pejabat Kejaksaan Agung yang mengeluarkan surat edaran tersebut mestinya diusut dan dihukum.


Sudah Kering Keringat, Baru Dibayar !

Januari 30, 2014

buruhHari Raya Imlek tahun ini jatuh pada hari Jumat, tanggal 31 Januari, ketemu 2 hari libur kerja yaitu hari Sabtu dan Minggu. Itu artinya bagi para PNS, yang biasanya gajinya turun tiap tanggal 1, tetapi karena tanggal 1 jatuhnya di hari Sabtu, berarti  dua hari dapur gak ngebul, hehehe. Hari Senin, baru bisa ambil hasil keringat selama sebulan yang sudah lewat.

Coba yaa, negara ini bisa belajar dari Toru Kumon, di Kumon, pembayaran les dilakukan di akhir bulan berjalan, bayar lunas dulu baru les, sehingga Kumon bisa menggaji tenaga pengajarnya di awal les, tidak perlu menunggu mengeluarkan keringat dulu.

Mestinya Pemerintah bisa dong mengatur ketika tanggal 1 jatuhnya di hari Sabtu atau hari libur, maka PNS diberikan gajinya sebelum tanggal 1, jadi dimajukan, bukan malah diundur.

Bukankah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan memberikan upah sebelum keringat si pekerja kering.

Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih).  Maksud hadits ini adalah bersegera menunaikan hak si pekerja setelah selesainya pekerjaan, begitu juga bisa dimaksud jika telah ada kesepakatan pemberian gaji setiap bulan.

Menunda penurunan gaji pada pegawai padahal mampu termasuk kezholiman.

Menunda penunaian kewajiban (bagi yang mampu) termasuk kezholiman” (HR. Bukhari no. 2400 dan Muslim no. 1564)

Bukankah, mayoritas penyelenggara negara ini adalat umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ?