Obama presiden global

November 6, 2008

Turut bersuka cita menyambut kemenangan Barack Husein Obama sebagai Presiden USA yang ke-44.

Semoga tidak ada lagi Amerika yang arogan dengan kebijakan Luar negerinya.

Semoga segera usai perang di Irak, Palestina vs Israel, dan Afganistan.

Semoga tidak ada lagi negara lain yang diobok-obok oleh USA.

Semoga USA bisa bersikap adil terhadap dunia Islam, dan tidak ada lagi perang terhadap Islam yang berkedok “War on Terorrism”.

Dunia bersuka cita, dunia berharap kepada Obama, presiden global, yang merepresentasikan emosi global, Obama meraih emosi Asia, karena menghabiskan masa kecilnya di Jakarta, Indonesia, Asia.

Obama memenangkan  emosi Afrika, karena ayah kandungnya berasal dari Kenya, Afrika.

Obama mendapat simpati di Timur Tengah, karena nama Husseinnya.

Pendek kata Obama adalah sosok manusia yang mewakili semua, mewakili kulit hitam, tapi juga mewakili kulit putih, karena ibu kandungnya berkulit putih. Mewakili Kristen, karena beliau seorang Kristian, tapi juga mewakili Islam, karena ayah kandungnya adalah muslim.

Semoga lebur semua perbedaan, semoga tidak ada lagi diskriminasi.

Selamat bertugas Mr. President Barack Huseein Obama.

We’ll wait and see.


Selamat Idul Fitri 1429 H

Oktober 1, 2008

Mohon Maaf Lahir dan Batin yaa !

Minal ‘Aidin wal Faizin,

semoga kita termasuk orang-orang yang kembali ke fitrah dan mendapatkan kemenangan.

Amin.


THSR

September 25, 2008

Mumpung masih di Taiwan, kami mencoba naik THSR (Taiwan High Speed Rail), penasaran seperti apa sih kecepatan kereta yang kabarnya tercepat di dunia itu ?

THSR mulai beroperasi pada tanggal 5 Januari 2007, Kereta cepat atau express trains ini kabarnya mampu menempuh jarak diatas 350 km/jam.

THSR berangkat dari kota Taipei menuju kota Kaohsiung yang jaraknya 335.50 km, ditempuh dalam waktu 90 menit, jika naik kereta konvensional butuh waktu selama 4.5 jam. Wow….hebatkan…diskon 3 jam !

Karena harga tiket yang lumayan mahal, dan sudah menjelang berbuka puasa pula, kami sengaja mencoba jalur dekat saja, dari Taipei menuju Taoyuan….he…he..he…cuma berhenti di satu stasiun di kota Panciou.…terus sampe deh di Taoyuan. Cuma 15 menit, kalo naik jalur reguler bisa makan waktu 1,5 jam.

Kirain….kecepatannya sama seperti melihat superman melesat terbang ke angkasa….ssyyuuush…ternyata sama aja kayak naik pesawat terbang….gak kerasa kecepatannya. Hie…hie..hie…yang naikdi dalam mah emang gak nyadar kalo cepat ya….coba lihatnya dari luar…mungkin seperti melihat bayangan hantu menghilang…..atau kereta hantu menghilang….hi..hie..hie……wwuussshhh. Atau memang belum mencapai kecepatan maksimalnya karena baru start dua stasiun.

Interior  THSR persis di dalam pesawat, sangat nyaman. Di kelas bisnis  disediakan makanan yang di sajikan oleh para pramugari yang cantik-cantik dan menawan. Di kelas ekonomi, yang haus bisa beli sendiri di vending machine yang tersedia.

Setelah sampai di stasiun Tao Yuan, kami melanjutkan perjalanan menuju pusat kota dengan naik bis gratis yg disediakan oleh THSR, tujuan kami ke Toys are Us, untuk membeli oleh-oleh buat keponakan cilik tercinta.

.


Lecture in Linkou Junior High School

September 22, 2008

Awalnya, Ching Wen bercerita bahwa beberapa teman sekolah anak perempuannya, Wendy, ada yang menjadi drugs user. Ching Wen yang sangat peka dengan kepentingan masa depan anak, sangat prihatin. Teringat akan kisah hidup suami saya, kemudian munculah idenya, agar suami saya memberikan semacam kuliah berbagi pengalaman hidup untuk memotivasi anak-anak tsb agar peduli dengan masa depannya.

Ching Wen, berulang kali memang mengatakan bahwa kisah hidup kami sangat bagus untuk di bagi kepada orang lain, he…he..he..katanya agar orang lain juga bisa meniru perjuangan hidup suami saya. Padahal siih…gak ada yang luar biasa tuh…..Ching Wen memang aneh.

Suami saya tidak bisa menolak, karena Ching Wen selama ini, sangat baik terhadap kami. Akhirnya, suami saya pun memberikan kuliah itu, tentu saja dalam bahasa Inggris, karena suami saya tidak bisa bahasa Mandarin. Mungkin baru kali ini, suami saya berbicara di hadapan 1000 orang, dan anak-anak SMP pula.

Suami saya terkejut, karena ternyata bosnya dari NCF, Rebecca,  juga hadir di sana, beserta 1 orang asistennya, juga Deby.  Siapa lagi yang menghubungi mereka kalau bukan Ching Wen, tetangga kami di Chang Gung Medical Village. Ching Wen juga hadir, sambil membawa seorang bayi asuhnya.

Saya ikut senang dan bersyukur, semua berjalan baik, semoga bermanfaat untuk anak-anak smp tsb. Lucunya, kepala sekolah smp tsb, Fu-Ming Tseng, memberikan sertifikat penghargaan dalam bahasa Mandarin, lengkap dengan foto suami saya, dan langsung di bingkai pula.


Praktek Membuat Mantou

September 22, 2008

Tetangga kami yang sangat baik hati, Ching Wen, mengatur acara masak bersama, dia ingin sekali mengajarkan saya membuat makanan khas Taiwan, yaitu Mantou. Ching Wen menyediakan semua alat masak dan bahan baku yang diperlukan.  Dia bilang supaya nanti di Indonesia saya dapat mengajarkannya lagi kepada orang lain, atau ketika bos suami saya yang orang Taiwan datang berkunjung ke Indonesia, maka saya dapat menyuguhinya kue Taiwan tsb. Sungguh niat yang mulia….yang sangat sulit untuk di tolak.

Sebenarnya, saya sangat ingin menolak acara itu, karena kami sedang shaum dan juga menjelaskan bahwa kami di Indonesia juga mengenal kue seperti Mantou itu, namanya Bakpau, cara membuatnya pun sama, cuma ada perbedaan sedikit pada bahan bakunya.

Kebersamaan dan kebahagian saat masak bersama itulah yang paling berharga. Kami menikmatinya. Ching Wen datang bersama dengan 3 orang temannya yang juga orang Taiwan, dan tiga orang anaknya, yaitu Wendy, Tony, dan Thomas, juga ada 4 orang anak kecil, diantaranya bernama Franky yang pandai berbahasa Inggris, padahal baru kelas 3 SD, serta 1 orang Indonesia, namanya Wiwid, yang bekerja sebagai TKW di sini. Mereka semua orang-orang yang baik dan menyenangkan.

Untungnya, saya pas tidak shaum, jadi dapat ikut mencicipi. Mungkin Ching Wen lupa, kalo kami sedang shaum Ramadhan. Kasihan anak-anakkami, cuma bisa ngiler melihat anak-anak yang lain, menikmati suguhan kami, untungnya mereka tidak menyadari kalo anak kami tidak ikut makan dan minum.

Kebetulan, teman kami, ibu Lie, baru tiba 3 hari yang lalu dari Indonesia, dan memberi oleh-oleh daging rendang serta emping, sekalian saja kami suguhkan, siapa tahu cocok dengan lidah orang Taiwan, sayang….ternyata mereka kurang begitu suka karena rasanya yang terlalu pedas. Tapi, kelihatannya mereka sangat menyukai ayam goreng Indonesia masakan kami. He…he..he..lucu juga suasananya.


Moon Festival Dan Ramadhan 1429 H

September 22, 2008

Tak terasa summer berlalu begitu cepat, fall tiba-tiba sudah menyapa bersamaan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Semoga kami dapat menunaikan ibadah Shaum Ramadhan kali ini dengan baik, dan semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hambanya yang bertakwa. Amin.

Ramadhan di Taiwan sangat berbeda dengan di Indonesia, kami serasa sendirian di sini, tidak ada orang lain selain kami yang shaum, apalagi masjid juga tidak ada di kota Linkou ini. Tidak ada gema Ramadhan, tidak ada bedug sahur, tidak ada teriakan imsak dari masjid apalagi panggilan sholat atau adzan.

Tapi, kami memasang adzan melalui internet, jadi Alhamdulillah adzan tetap terdengar meskipun cuma diruangan apartemen kami. Ketika menyiapkan hidangan makan sahur, kami berusaha agar tidak menimbulkan suara gaduh yang dapat mengganggu tetangga apartemen kiri, kanan, depan, bawah, dan atas kamar apartemen kami.

Seorang tetangga kami, beberapa kali merasa heran ketika datang kerumah pagi hari, sekitar pukul. 09.00, kami terlihat baru bangun tidur dan belum mandi. Hie..hie..hie…mungkin dalam fikirannya “ini orang Indonesia pemalas sekali, sudah siang baru bangun tidur dan belum mandi pula”.

Ini memang bulan terakhir kami di Taiwan, suami saya sudah bebas dari kewajiban sekolahnya di sini, anak-anak kami juga sudah berhenti sekolah, jadi kami semua santai menghabiskan waktu bersama-sama terus menjelang kepulangan kami ke Indonesia, di tambah lagi ini bulan Ramadhan…..he…he..he…jadi pass kalo mau nambah jam tidur pagi, siang, sore, atau malam.

Akhirnya, kami menjelaskan kepada tetangga kami itu, mengapa akhir-akhir ini kami selalu bangun terlambat, karena ini adalah “fasting month“, kami bangun jam 3 dini hari untuk makan sahur, dan menjelang pagi hari baru kami tidur lagi, kemudian tidak makan dan tidak minum sampai menjelang matahari terbenam.

Tetangga kami itu langsung terkejut…”you are crazy” serunya, apalagi ketika tahu bahwa anak-anak kami yang masih kecil juga  ikut shaum. He..he..he..

Minggu pertama Ramadhan, bertepatan dengan “Moon festival atau mid-autumn festival“. Beberapa kolega suami saya, memberi moon cakes. Moon cakes itu terlihat cantik-cantik dan sangat menggiurkan membayangkan kelezatannya. Sampai-sampai anak kami, Gilang, tidak kuat lagi menahan air liurnya melihat adiknya Tiara yang berusia batita sedang menikmati moon cakes itu di siang hari.

” Mama, Gilang buka ya ? abis ngiler lihat adek Aya makan kue bulan”. Hie..hie..hie…salah satu godaan shaum di negeri Formosa….ngiler liat kue bulan.


Typhoon Sinlaku Menghantam Bumi Formosa

September 15, 2008

Akhir minggu ini, tanggal 13 dan 14 September seharusnya seluruh keluarga di Taiwan dapat menikmati “family gathering” di bawah sinar bulan purnama  sambil menikmati “Moon cake” atau “Barbecue“.

Sayang, alam tidak mendukung, sejak hari Kamis, Jum’at, Sabtu, bahkan hari Minggu, typhoon belum juga reda, sampai hari Senin pagi ini, hujan dan angin sangat kencang masih berlangsung. Syukurnya, minggu sebelumnya sebagian masyarakat Taiwan sudah menyelenggarakan “moon festival ” atau “Mid -Autumn Festival”, termasuk kami juga ikut merayakannya.

Menurut berita di “Taipei Times”, typhoon Sinlaku telah melukai 17 orang, dan 2 orang dinyatakan hilang, 1000 orang yang tinggal di pegunungan dievakuasi. Sebanyak 18.000 rumah tangga, tidak dapat menikmati listrik, dan 800 rumah tangga tidak dapat menikmati air, karena terputusnya jaringan listrik dan air akibat badai tsb.

Badai angin yang berkekuatan 173 km/jam ini, dengan radius 250 km, juga telah melemparkan 3 buah mobil ke dalam sungai “Dachia River”, dari atas jembatan Howfeng Bridge (后豐大橋), yang menghubungkan Howli (后里) and Fengyuan (豐原) di Taichung County, Jembatan tsb. juga  collapsed, sampai ambruk,  kemarin.

Kerugian di bidang pertanian, lebih dari  NT$114 million (US$3.57 million). Sebanyak 200 sungai siap-siap kebanjiran.

Typhoon selama 4 hari ini, adalah typhoon terberat yg kami rasakan selama hampir setahun tinggal di Taiwan. Biasanya, typhoon berlangsung paling lama hanya 24 jam. Akhirnya, kami merasakan juga terkurung berhari-hari di dalam apartemen dan kekurangan bahan makanan.

Semoga, hari ini typhoon segera reda dan berlalu. Kabarnya typhoon akan segera menuju ke Jepang. Semoga, semua aman terkendali. Amin.


Yeliou Geopark

Agustus 31, 2008

Salah satu tempat wisata yang sangat menarik di Taiwan utara, sebuah taman batu berbentuk jamur hasil bentukan alam melalui abrasi air laut, kikisan angin dan terpaan sinar matahari.

Dari tempat kami tinggal di Linko, naik bis chang Gung langsung menuju terminal bis Taipei, dari terminal bis Taipei naik bis jurusan Jinshan, dengan membeli tiket terlebih dahulu di counter pembelian tiket, tiket bisa dibeli PP. Harga tiket dewasa 92 NT dan tiket anak 51 NT.

Seharusnya perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 1 jam, tetapi karena kemarin ada 10 ribu massa yang berunjuk rasa di sepanjang jalan kota Taipei, yang memprotes pemerintahan Presiden Ma Yinjou, yang pro China dan memprotes inflasi yang terjadi seiring dengan kenaikan BBM, sehingga jalanan menjadi macet, akhirnya baru sampai dalam waktu hampir 2 jam.

Melewati kota Keelung, yang terkenal dengan Keelung night marketnya. Bis berhenti di Fishing Village of Yeliou. Dari desa ini sudah tampak banyak pemandangan yang indah, kuil, perahu-perahu nelayan, dan gunung. Menuju ke lokasi Yeliou Geopark hanya berjalan kaki tidak sampai 10 menit, dan membayar harga tiket masuk 50 NT. Tapi, karena kami kesorean, loket tiket sudah tutup, akhirnya kami masuk mengikuti jejak orang-orang Taiwan yang ingin memancing di pantai tsb, melalui jalan masuk yang cukup sulit, berjalan menyusuri tembok batu yang tinggi dan menuruni cerukan yang cukup tinggi pula.

Tetapi, pemandangan yang didapat sungguh menakjubkan “Subhanallah“, rasanya kami tidak percaya melihatnya, sebuah pemandangan yang selama ini belum pernah kami lihat. Perpaduan pantai, langit dan taman formasi batu-batuan beraneka bentuk jamur. Kelihatanya seperti ukiran kayu diatas tanah, padahal seluruhnya adalah batuan. Ada yang disebut Ginger rocks, candle rocks, mushroom rocks, dan yang terkenal adalah batu Queen’s Head.

Di depan pintu masuk dan keluar, ada tempat penjualan souvenirs dan makanan olahan laut, seperti abon ikat, suwiran cumi bakar,permen ikan, dll.

Di sepanjang desa itu juga ada banyak restoran seafood, dengan harga terjangkau dan rasanya dijamin segar dan sangat lezat. Ikan bakarnya mengingatkan menu ikan bakar di rumah makan Sunda di Indonesia.


Longshan Temple

Agustus 31, 2008

Longshan Dragon Mountain temple adalah salah satu kuil tertua di Taiwan, dibangun pada tahun 1738, dan sampai sekarang menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik. Letaknya di kota Wanhua, jika naik MRT menuju ke stasiun Longshan hanya membutuhkan waktu 10 menit saja. “Take the blue line to Longshan station“. Ongkosnya cuma 20 NT.

Di halaman depan kuil terdapat kolam taman yang cantik dengan riam buatan yang terlihat asri dan segar. Dikolam tersebut banyak ikan-ikan emas berukuran besar yang berenang riang kesana-kemari.

Di bagian dalam, ada toko souvenir yang menjual kerajinan yang berhubungan dengan kepercayaan Taoism, seperti patung dewi dan dewa, ada juga perhiasan dari batu jade.

Ketika kami kesana, ada banyak orang Taiwan sedang sembahyang di sore hari, dengan khidmat mereka membungkukkan badan berkali-kali sembari kedua tangannya memegang dua batang hio yang sudah dibakar, di hadapan 3 buah patung Buddha yang terbingkai kaca.

Di sekitar Longshan temple ini juga ada Longshan mall, dan toko-toko sepanjang jalan yang menjual segala perlengkapan ibadah, seperti tempat bakaran persembahan, hio, patung dewa dewi, dll.

Yang menarik, sepanjang pengamatan kami, di setiap lokasi wisata di Taiwan, pasti terdapat kuil.


Fulong Beach

Agustus 31, 2008

Minggu lalu kami main ke pantai Fulong, berangkat dari apartemen pk.07.30. naik bis gratis ke Chang Gung Hospital, kira-kira 10 menit, kemudian naik bis ke Taipei Main Station, ongkosnya 35 NT/orang, kira-kira 15-20 menit. Dari Taipei Main Station, dilanjut dengan naik kereta api jurusan Fulong, tiket PP, 120 NT/orang.

Dari Taipei menuju Fulong, melewati stasiun Song San, st. Nan Gang, st. Si ke, st. Si Jhih, st. Wu Du, st. Ci Du, st. Ba Du, st. Ruei Fang, st. Hou Tong, st. Shuang Si, dan sampailah di st.Fulong. Waktu tempuhnya kira-kira 1 jam 15 menit.

Dari stasiun Fulong menuju lokasi pantai, hanya perlu berjalan kaki kira-kira 10 menit saja. Sepanjang jalan menuju ke lokasi, terdapat toko-toko yang menjual segala perlengkapan aktifitas di pantai, yang pasti di setiap lokasi pariwisata di Taiwan ini, selalu ada 7 eleven yang siap memenuhi kebutuhan kita.

Tiket masuk menuju pantai harganya 90 NT untuk dewasa, dan 70 NT untuk anak. Yang membuat kami bangga sebagai orang Indonesia, di tiket tsb. tertera tulisan “Feel like in Bali“. Padahal, masih banyak loh tempat-tempat yang menakjubkan di Indonesia, selain Bali. Sayangnya kurang perhatian dari pemerintah kita.

Pantai Fulong yang berpasir keemasan, dikelola dengan sangat baik, indah dan bersih, kita tidak perlu ragu untuk bermain pasir atau bahkan mandi pasir sepuasnya, karena disedikan tempat bilas yang sangat banyak dan nyaman, berikut dengan hair dryer yang digantung di tempat bilas.

Di sana banyak pula yang sedang berlatih wind surfing atau selancar angin.