Tak terasa summer berlalu begitu cepat, fall tiba-tiba sudah menyapa bersamaan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Semoga kami dapat menunaikan ibadah Shaum Ramadhan kali ini dengan baik, dan semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hambanya yang bertakwa. Amin.
Ramadhan di Taiwan sangat berbeda dengan di Indonesia, kami serasa sendirian di sini, tidak ada orang lain selain kami yang shaum, apalagi masjid juga tidak ada di kota Linkou ini. Tidak ada gema Ramadhan, tidak ada bedug sahur, tidak ada teriakan imsak dari masjid apalagi panggilan sholat atau adzan.
Tapi, kami memasang adzan melalui internet, jadi Alhamdulillah adzan tetap terdengar meskipun cuma diruangan apartemen kami. Ketika menyiapkan hidangan makan sahur, kami berusaha agar tidak menimbulkan suara gaduh yang dapat mengganggu tetangga apartemen kiri, kanan, depan, bawah, dan atas kamar apartemen kami.
Seorang tetangga kami, beberapa kali merasa heran ketika datang kerumah pagi hari, sekitar pukul. 09.00, kami terlihat baru bangun tidur dan belum mandi. Hie..hie..hie…mungkin dalam fikirannya “ini orang Indonesia pemalas sekali, sudah siang baru bangun tidur dan belum mandi pula”.
Ini memang bulan terakhir kami di Taiwan, suami saya sudah bebas dari kewajiban sekolahnya di sini, anak-anak kami juga sudah berhenti sekolah, jadi kami semua santai menghabiskan waktu bersama-sama terus menjelang kepulangan kami ke Indonesia, di tambah lagi ini bulan Ramadhan…..he…he..he…jadi pass kalo mau nambah jam tidur pagi, siang, sore, atau malam.
Akhirnya, kami menjelaskan kepada tetangga kami itu, mengapa akhir-akhir ini kami selalu bangun terlambat, karena ini adalah “fasting month“, kami bangun jam 3 dini hari untuk makan sahur, dan menjelang pagi hari baru kami tidur lagi, kemudian tidak makan dan tidak minum sampai menjelang matahari terbenam.
Tetangga kami itu langsung terkejut…”you are crazy” serunya, apalagi ketika tahu bahwa anak-anak kami yang masih kecil juga ikut shaum. He..he..he..
Minggu pertama Ramadhan, bertepatan dengan “Moon festival atau mid-autumn festival“. Beberapa kolega suami saya, memberi moon cakes. Moon cakes itu terlihat cantik-cantik dan sangat menggiurkan membayangkan kelezatannya. Sampai-sampai anak kami, Gilang, tidak kuat lagi menahan air liurnya melihat adiknya Tiara yang berusia batita sedang menikmati moon cakes itu di siang hari.
” Mama, Gilang buka ya ? abis ngiler lihat adek Aya makan kue bulan”. Hie..hie..hie…salah satu godaan shaum di negeri Formosa….ngiler liat kue bulan.