KuMOn dan Visi Kejujuran

Kurang lebih  3 bulan yang lalu, Gilang dan Tiara bergabung belajar matematika di Kumon. Untuk menyamakan visi dan agar bisa membimbing anak dalam proses belajar, para orang tua diundang untuk mengikuti presentasi mengenai Kumon.

Salah satu visi dan misi Toru Kumon, seorang berkebangsaan Jepang, pendiri Kumon, adalah “Kejujuran”, ingin mencetak anak-anak yang jujur. Latihan Jujur dalam mengerjakan soal-soal matematika. Mengisi waktu dengan benar dan jujur, mengerjakan soal sendiri, tidak bertanya, dibantu atau dikerjakan oleh orang tua. Jika ada soal yg diperbaiki karena salah, soal tersebut diberi tanda. Demikian penjelasan Miss Yenny, salah satu pemilik Kumon di Bogor.

Miss Yenny juga minta agar orang tua bersabar dan berempati kepada anak, ketika anak sedang mengerjakan soal. Untuk merasakan bagaimana rasanya seorang anak ketika sedang mengerjakan PR atau PS, orang tua kemudian diajak oleh Miss Yenny untuk mengerjakan 1 lembar soal, berisi 10 soal bagi kurung, dan harus dikerjakan dalam waktu 3 menit.

Mendadak riuhhlah seisi ruangan, sekitar 25-30  orang tua murid bersuara tidak siap dan sudah lupa dengan soal-soal matematika. Hehehe.

Lembar soal sudah dibagikan ketika alat tulis sedang di siapkan dan belum dibagikan. Seorang ibu, yang duduk paling depan, lajur tengah, sudah sibuk ngotret, mencuri start menghitung jawaban duluan. Kebetulan, saya duduk paling depan juga, di lajur kiri.

Sementara itu, miss Yenny, sambil menunggu alat tulis disiapkan, melanjutkan presentasi. Ketika melihat ada seorang ibu yang sudah mulai mengerjakan soal, Miss Yenny mengingatkan secara umum, “Mohon, tidak dikerjakan dulu ya ibu-ibu dan bapak-bapak.” Peringatan ini sampai diulang oleh miss Yenny.

Entah mendengar, entah tidak, si Ibu yang sudah sibuk mengerjakan soal itu, masih saja melanjutkan mengerjakan soal. Padahal yang lain belum mulai. Entah apa maksudnya kok mengerjakan duluan, takut gak selesai, ingin selesai duluan dan menjadi juara ?

Anak saya yang SMP, kebetulan menemani saya dan duduk di sebelah saya. “Mama, ibu itu curang, udah ngerjain soal duluan.”

“Seharusnya, dia malu berbuat seperti itu Kak. Kakak tidak boleh seperti itu ya, kita harus taat pada aturan main, apalagi dia seorang ibu, masak memberi contoh yang tidak baik.”

“Baiklah, ibu-ibu dan bapak-bapak, sekarang waktunya mengerjakan soal. Harus selesai dalam waktu 3 menit. Ayo…ayo….cepat kerjakan ! Itu soal anak SD loh, malu kalo ibu-ibu dan bapak-bapak kalah dengan anak SD. Ayo….lebih cepat lagi !! Jangan lama-lama….ayo…ayo nanti waktunya keburu habis !!!”, kata miss Yenny.

“Ayo…ibu…bapak…masak soal gampang gitu gak bisa. Itu cuma soal pembagian SD. Ayo…waktunya tinggal 1 menit. Yak….letakkan semua alat tuliss…ayo sudah hentikan, waktunya sudah habis !”, perintah miss Yenny.

Saya dan anak saya langsung meletakkan alat tulis, karena waktunya sudah habis. Kami hanya sempat mengerjakan 5 soal. Sengaja saya perhatikan si ibu yang mencuri start tadi, owalah…..disuruh meletakkan alat tulis karena waktunya sudah habis, si ibu malah terus saja  mengerjakan soal….ck…ck…ck…semangat sekali si ibu untuk menjadi juara dengan menghalalkan segala cara.

“Baiklah ibu-ibu dan bapak-bapak, bagaimana rasanya mengerjakan soal sambil dimarahi dan diburu-buru agar cepat selesai ? Tidak enak bukan ? Ibu dan bapak jadi panik dan malah tidak bisa konsentrasi bukan ? Begitulah yang dirasakan oleh anak-anak ibu dan bapak jika sedang mengerjakan PR di rumah. Oleh karena itu ibu dan bapak harus sabar ya menghadapi anak, tidak perlu memaksa, memarahi, menekan, yang akhirnya membuat anak menjadi stres mengerjakan PR Kumon-nya.” pinta miss Yenny.

“Sekarang, saya umumkan siapa yang menjadi juara dalam mengerjakan soal tadi. Juaranya ada tiga orang, juara satu mampu mengerjakan 5 soal dan benar, juara ke-2 mengerjakan 4 soal dan benar, juara ke-3 mengerjakan 3 soal dan benar. Juara ke-1 adalah “Si Fulan”, miss Yenny menyebutkan nama yg tercantum di kertas Soal dan jawaban terbaik.

Siapakah “Si Fulan” ? Ternyata, si ibu yang telah berbuat curang tadi. Wekekekekekkkkk…..gleg…enaknya berbuat curang, bukannya dihukum malah diberi penghargaan dan hadiah. Hehehehe

Anak saya, “Binar”, mendapat juara ke-2. Dan dipuji oleh miss Yenny, “Selamat ya adik Binar, kamu hebat, pintar sekali”. Sebagai rewardnya, para juara mendapat hadiah tempat alat tulis khas kumon.

Saya yakin, sebenarnya miss Yenny pun tahu bahwa si ibu telah berbuat curang, dan dia tidak pantas mendapat penghargaan sebagai juara ke-1. Tetapi, miss Yenny sudah terlanjur menyebutkan nama, dan mungkin saja miss Yenny tidak menyangka bahwa nama yang disebutkan adalah namanya si ibu tersebut.

Ternyata, dalam prakteknya, begitu sulit untuk menegakkan nilai-nilai kejujuran. Sebenarnya, saya ingin protes saat itu juga, tetapi kemudian saya tidak tega karena protes saya tentu saja akan mempermalukan pribadi si ibu yang telah berbuat curang tadi, di depan semua orang tua murid yang lainnya. Mungkin juga akan mempermalukan miss Yenny.

Belum terlambat, mari kita mulai menegakkan  nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan kita sehari-sehari.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.