Banyak sekali cerita lucu dan membahagiakan yang dialami seorang ibu ketika membesarkan buah hatinya. Sungguh sangat disayangkan untuk dilewatkan atau diwakilkan kepada orang lain untuk menikmatinya.
Kadang saya tidak habis pikir, apa sebenarnya yang membuat para wanita karier itu rela kehilangan momen- momen penting dalam perjalanan hidup buah hatinya ?
Malam pertama sholat tarawih, saya sholat di samping Ani ( nama samaran seorang prt yang bekerja di rumah tetangga ). Ani sholat bersama dengan 3 orang anak tetangga saya itu. Anak yang terkecil masih balita.
Entah bagaimana mulainya, Ani curhat bahwa majikannya hampir tidak punya waktu untuk anak-anak. Majikan lelaki bekerja di Jakarta, dari Senin – Jum’at, pulang pk. 17.00. Sementara majikan perempuan juga bekerja di Jakarta, pulang pk.22.00-23.00, sesekali pulang pk.21.00.
Astagfirullah ! Rasanya, saya tidak percaya mendengar ucapan Ani. Masak sih majikan perempuannya pulang kerja selarut itu hampir setiap hari ? Yang saya tahu pasti, dia memang pergi kerja setiap pagi sekitar pk. 06.00 naik ojek ke stasiun KA menuju Jakarta. Dan saya memang hampir tidak pernah bertemu dia di sore hari, kecuali hari Sabtu/Minggu.
Ani curhat lagi, katanya si kecil kalau Sabtu/Minggupun tidak mau tidur dengan ibunya, lebih memilih tidur dengan Ani.
Kalau saya jadi ibunya, saya akan menangis menghadapi kenyataan bahwa anak balita saya lebih memilih tidur dengan pembantu daripada saya.
Sungguh tidak habis pikir, mengapa suaminya membiarkan itu semua ? Berangkat kerja pagi hari masing-masing, ketika pulang kerja, istri belum dirumah, anak-anak lebih dekat dengan para pembantu, dan istri pulang larut malam dalam kelelahan, tak lama kemudian tidur, bangun pagi hari, dengan rutinitas yang sama.
Untuk apa bersusah payah mencari uang dari pagi sampai malam hari kalau akhirnya anak-anak, uang, rumah besar, dan mobil bagus itu tidak untuk mencapai kebahagian bersama keluarga, baik di dunia maupun di akhirat kelak ?
Akhirnya, siapa yang menikmati ? Ani yang menikmati bermain, bercanda, tertawa dengan anak-anak tetangga saya itu, dirumahnya yang besar dan nyaman.
Siapa yang beruntung dan siapa yang rugi, ketika seorang perempuan memilih menjadi IRT atau wanita karier seperti tetangga saya itu ?
Semoga, dia kelak tidak akan menyesal dengan pilihan hidupnya.