Berharap tidak ada lagi dokter bodoh yang membodohi pasiennya yang awam.
Ada seorang ibu dari keluarga tidak mampu, berobat kepada dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Sp.OG = Specialist Obstetry and Gynecology). Dokter itu mengatakan ada kista di rahim si Ibu (pasien) yang harus diangkat segera.
Setelah dioperasi, luka bekas operasi selalu basah, tidak kunjung mengering, sehingga pasien harus dirawat selama 3 bulan.
Pasien bertanya kepada dokter, “Dok, apakah lukanya bisa sembuh ? Kenapa lukanya selalu basah ?”
Kemudian si dokter memberikan penjelasan, “Ibu, penyakit ibu ini adalah penyakit sulit dan langka. Tapi, ibu gak usah kuatir, saya udah tiga kali punya pasien dengan penyakit seperti ini, setelah dirawat 3 bulan, lukanya akan kering dan sembuh”.
Setelah lewat 3 bulan, dan luka belum kunjung mengering, tiba-tiba si dokter mengatakan bahwa pasien harus dioperasi kembali oleh dokter lain, yaitu dokter spesialis urologi (Sp.U).
Kemudian, pasien bertanya mengapa dia harus dioperasi lagi ? Apakah tidak bisa sembuh tanpa operasi, mengingat si pasien tidak punya biaya lagi untuk operasi.
Kemudian ada yang memberitahu si pasien bahwa mungkin saja si dokter telah melakukan kesalahan pada operasi pengangkatan kista di rahimnya, sehingga si pasien harus dioperasi lagi.
Pasien kemudian menyampaikan informasi itu kepada si dokter, si dokter malah tersinggung dan marah dan mengatakan bahwa operasi ke-2 tidak ada hubungannya dengan operasi ke-1 yang telah dikerjakannya, dengan kata lain operasi ke-2 bukan akibat dari operasi ke-1.
Anehnya, setelah itu si dokter memberikan amplop berisi uang 1 juta rupiah kepada pasien, katanya untuk membantu meringankan biaya operasi ke-2.
Semestinya, dokter Sp.OG tsb, sebelum melakukan operasi pengangkatan kista rahim, memberikan penjelasan (informed concern) yang sejelas-jelasnya kepada si pasien tentang segala risiko dari operasi pengangkatan kista pada rahimnya.
Seperti diketahui bahwa kista uteri letaknya bisa berdekatan dengan saluran ureter (saluran kencing bagian atas), sehingga tentu saja cedera pada ureter sangat mungkin terjadi pada operasi pengangkatan kista uteri.
Mengapa luka si pasien setelah operasi tidak kunjung mengering ? Karena luka tsb selalu kena bocoran air kencing, jadi selalu basah. Mengapa bisa terkena air kencing ? Karena saluran kencingnya terpotong ketika operasi pengangkatan kista uteri.
Sebaiknya si dokter memberitahukan kemungkinan tsb. kepada pasien sebelum operasi dilakukan. Apakah pasien bersedia dioperasi dengan risiko tsb ?
Ketika pasien bersedia, dan apabila pada saat operasi ternyata si dokter tidak bisa menghindari membuang kista tanpa mencederai ureter, si dokter bisa segera berkonsultasi untuk operasi bersama dengan dokter spesialis urologi.
Sehingga pasien tidak perlu mengalami penderitaan berkepanjangan, membuang-buang waktu dan biaya yang sangat besar.
saya jadi takut utk operasi. sy divonis miom uteri 12cm. gimana nih
Dear Rita,
Sebelumnya, saya ikut berduka. Biar bagaimanapun solusi yang terbaik adalah menjalani operasi. Gak perlu takut Rita, asalkan kita tetap bersikap kritis terhadap dokter, agar dokternya berhati-hati dan menangani kita dengan sebaik-baiknya.
Kalau perlu cari informasi dulu mengenai trackrecord si dokter, tanya om Google dulu juga boleh.
Semoga cepat sembuh ya.