Tadi pagi, pembantunya tetanggaku minta daun sirih untuk dijadikan obat batuk. Si bibi bilang, “Bu, minta daun sirih, tapi maaf tolong petikkan sekalian, soalnya, saya lagi menstruasi”.
“Loh, emangnya kenapa kalo lagi menstruasi ?”, tanya saya kebingungan.
“Itu bu, katanya orang tua, kalo lagi menstruasi gak boleh metik sirih, nanti pohon sirihnya jadi mati”, si bibi menjelaskan.
“He..he..he…hebat banget perempuan yang lagi menstruasi, bisa matiin pohon sirih. Hidup dan matinya makhluk, termasuk pohon sirih ini, di tangan Allah SWT bi.”
“Saya juga lagi menstruasi, dan sudah 3 hari ini saya metik sirih, coba bibi lihat, pohon sirih ini masih segar bugar kan ? Berarti, tidak benar bahwa pohon sirih akan mati jika dipetik oleh perempuan yang sedang menstruasi. Itu cuma mitos bi, jangan di percaya, kalo kita ikut-ikutan percaya, saya kuatir jatuhnya jadi mempersekutukan Allah.”
“Iya, ya bu, tapi saya tetap takut nanti pohon sirih ibu jadi mati, kalo pohon sirih ibu mati, nanti saya repot, gak bisa minta lagi.”
Ternyata, memang sulit untuk melepaskan kaum muslim di Indonesia dari segala mitos dan kepercayaan nenek moyang. Contohnya saja, sampai sekarang penduduk Kampung Naga di Tasikmalaya, yang mengaku muslim, tapi menjalankan solat lima waktu hanya pada hari Jum’at saja, katanya mengikuti contoh nenek moyang. Mereka begitu patuh dan taat kepada adat istiadat nenek moyang yang mereka sebut karuhun. Padahal, jelas-jelas panutan kaum muslim adalah Rasulullah Muhammad SAW.