Mukena Putih

munajatku

Suatu hari, anak perempuanku yang bernama Binar, sepulang sekolah, langsung bertanya, “Mama punya mukena putih polos gak ? (Perasaan, dulu generasi aku, kalau bilang tidak, bahasa gaulnya jadi enggak, sekarang lebih disingkat lagi menjadi gak…salah satu bahasa alay kah ?).

Aku menjawab, “Enggak sayang, mukena mamah putih tapi tidak polos, karena ada bordiran berwarnanya. Memangnya kenapa Bin ?”

“Disekolah ada tugas main drama. Kakak disuruh jadi setan mah, dan harus pake mukena putih”, jawab anakku yang terbiasa menyebut dirinya dengan “Kakak”, karena sebagai anak pertama, dia selalu dipanggil kakak oleh kedua orang adiknya.

“Haahh….anak mama disuruh jadi setan ? Memang gak ada cerita yang lain, selain soal setan ? Lagian, kenapa juga harus pakai mukena ? Mukena itu kan pakaian untuk sholat bagi muslim kak, bukan pakaian setan atau dipakai untuk menakut-nakuti orang.

Pokoknya mama tidak mau kamu berperan sebagai setan, apalagi bawa-bawa mukena sebagai kostum setan. Ini namanya tidak menghormati agama orang. Mama tidak setuju. Kakak harus bilang sama ibu guru, dan ketua kelompok drama. Ganti saja dengan cerita yang lain, yang lebih mendidik dan mempunyai pesan moral yang baik. Atau, kalau tidak bisa ganti cerita, pakai kostum yang lain, jangan pakai mukena.”, protesku kepada anakku.

“Iya ma, besok kakak bilang. Kakak juga sebenarnya gak mau jadi setannya kok”, jelas anakku.

Keesokkan harinya, setelah bicara dengan ibu gurunya, anakku lapor, “Mah, kata ibu guru, ceritanya bagus kok, pesan moralnya bagus yaitu supaya kita tidak jadi anak yang jahil”.

Aku jadi bengong mendengar penjelasan anakku yang kedengarannya setuju dengan pendapat ibu gurunya. “Binar, memang benar sih…sebaiknya kita tidak menjadi anak yang nakal dan jahil, tapi….untuk menasihati seseorang supaya tidak nakal dan jahil, apa perlu bawa-bawa setan ? Lebih jauh, cerita itu mengajarkan seorang anak jadi takut kepada setan. Coba binar ingat-ingat, sebagai anak muslim, apa Binar diajarkan untuk takut kepada setan ?

Setan itu musuh manusia, jadi kita sebagai manusia harus berani melawan setan. Setan itu juga makhluk ciptaan Allah. Jadi, yang patut kita takuti adalah Allah yang menciptakan setan itu.

“Iya, ya ma. Tapi, kakak boleh ganti peran kok mah. Dan kata ibu guru, kostum setannya pakai sarung aja”, jelas anakku.

Ibu guru mungkin salah satu korban sinetron yang berbau mistik, ceritanya gak jauh dari setan-setan dan klenik. Lebih parah lagi, dalam sinetron dan film-film Indonesia, suka bawa-bawa pocong, padahal pocong itu menyerupai mayat seorang muslim yang dibungkus kain kafan putih dan diikat ujung kepalanya. Ini sudah salah kaprah, memangnya muslim itu kalo mati lantas jadi pocong ? Orang mati, ya sudah mati, gak bisa berbuat apa-apa lagi.

Mengapa warna putih suka distempelkan kepada sesuatu yang menakutkan atau identik dengan wajah setan ? Padahal, warna putih biasanya dipakai sebagai jubah ibadah dan jubah tokoh agama.

Satu Tanggapan ke “Mukena Putih”

  1. Mc.Oh Berkata:

    karena stiap orang yang meninggal slalu dibungkus dengan kain kafan yang warnanya putih. jadi orang orang identik bahwa setan itu adlh orang yang meninggal yang hidup lagi. jadi masih menggunakan kafan yang dipakai.

Tinggalkan Balasan