Entah bagaimana rasa bersalah dan penyesalan diri ini, jika Allah SWT benar-benar menetapkan bahwa aku harus kehilangan anak karena kelalaianku sendiri. Astagfirullah….ampuni segala kelalaianku Ya Allah.
Ketika itu, aku, suamiku, dan anakku Tiara (sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-4) pergi ke toko buku Gramedia di Botanical Square, Bogor.
Sebelum ke Gramedia, kami window shopping dulu di toko mainan (untuk mencari hadiah ultah Tiara). Toko mainan itu letaknya berdekatan dengan Gramedia.
Biasanya, saya tidak pernah meninggalkan Tiara sedetikpun bila di tempat umum. Ketika itu, saya sibuk mencari buku kumpulan soal UASBN untuk Binar, dan menitipkan Tiara pada papahnya.
Ketika masih mencari-cari buku…tiba-tiba suami saya muncul.
Spontan saya bertanya, ” Tiara mana Bang ?”
Suami saya menjawab, “Sedang baca buku di tempat buku cerita anak.”
Karena kuatir saya bertanya lagi, “Aman gak yaa, Tiara ditinggal sendirian ?”
Suami saya menjawab, “Aman, dia gak akan kemana-mana.”
Naluri seorang ibu tetap saja merasa tidak tenang membiarkan anak kecilnya sendirian di tempat umum. Maka, bergegas saya ke tempat buku cerita anak, untuk memastikan bahwa Tiara aman di sana.
Ya Allah….ternyata Tiara tidak ada di sana. Saya berusaha tenang…memberitahu suami saya bahwa Tiara tidak ada di tempat buku cerita anak, dan mulai mencari ke blok buku yang lain sambil memanggil-manggil namanya.
“Tiara…..Tiara…Tiara di mana ?” Tidak ada suara jawaban dari Tiara. Sudah semua sudut toko buku Gramedia kami periksa. Tiara tidak ada, berarti dia sudah keluar dari area toko. Rasa panik mulai menjalari hati dan sekujur tubuh kami yg lemas memikirkan kehilangan Tiara. Ya Allah, tolong lindungi Tiara.
Kami bergegas ke pintu masuk toko Gramedia, di mana selalu ada petugas keamanan yang menjaga. Kami berharap, petugas keamanan tidak begitu saja membiarkan seorang anak kecil berumur 4 tahun keluar sendirian dari tokonya. Karena, tidak mungkin seorang anak kecil datang sendirian tanpa orang tua atau pendamping.
Jadi, mestinya, ketika ada seorang anak kecil akan keluar dari toko, si petugas keamanan mestinya menahan si anak, tidak membiarkan dia keluar sendirian, si petugas harus menanyakan, “Adik, mau kemana ? Adik kemari dengan siapa ?”.
“Pak, anak kami hilang di toko ini. Apakah Bapak melihat ada seorang anak kecil berumur 4 tahun keluar sendirian dari sini ?” tanya saya kepada petugas.
“Tidak ada Bu” si petugas menjawab dengan ragu. “Apakah Ibu sudah mencari di seluruh ruangan toko ini ?” tanya si petugas.
“Sudah, tidak ada Pak” jawab suami saya mulai terlihat cemas. “Tolong, segera hubungi pihak keamanan gedung ini Pak !” pinta kami.
“Baik Pak ! Bapak Ibu tunggu di sini sebentar. Kami segera menghubungi seluruh pos keamanan di gedung ini. Semoga anak Bapak belum keluar dari gedung ini.”
Saya mulai membayangkan hal-hal yang buruk, bagaimana jika Tiara bertemu dengan orang yang jahat, penculik anak misalnya. Atau terjatuh dan terjepit di escalator. Atau tertabrak mobil. Astagfirullah….astagfirullah…astagfirullah, jauhkan Tiara dari hal buruk dan orang-orang yang hendak berniat jahat Ya Allah.
Setelah beberapa saat menunggu, petugas keamanan gedung memberitahu kami, di lantai 2 ada seorang anak kecil yang diamankan di pos keamanan. Kami diminta mengecek apakah anak tersebut adalah anak kami. Kami segera naik ke lantai 2 untuk melihat anak kecil itu.
Alhamdulillah….terimakasih Ya Allah…dari kejauhan mulai tampak Tiara sedang duduk ditemani petugas keamanan. Begitu dekat, saya langsung meraih Tiara dan memeluknya.
“Mama…mama tadi kemana ? Ade aya cari-cari mama…mama gak ada di mana-mana.” tanya Tiara dengan wajah yang masih memancarkan ketakutan dan kesedihan.
Tak lupa, kami mengucapkan terimakasih kepada petugas keamanan gedung yang sudah sigap dan cepat bertindak mengamankan putri kami.
Mulai hari itu, saya berjanji tidak akan membiarkan Tiara sendirian di manapun.
Ditulis oleh krisnov 




Sehari menjelang hari “H”, kami sibuk mempersiapkan sepeda ke-3 anak kami untuk mengikuti lomba karnaval sepeda hias.